Posted by: Funny Wiranata | October 9, 2008

Bibliometrik

 

Pendekatan bibliometrik dalam Komunikasi Ilmiah.

R.Funny Mustikasari Elita

 

Ilmu Pengetahuan berkembang pesat sejak diketemukannya mesin cetak sebagai sarana pengganda hasil informasi terekam. Dampak dari mesin cetak adalah meningkatnya jumlah literatur ilmiah dalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Peningkatan kuantitas literatur ilmiah serta kemudahan memperoleh informasi sangat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terus meningkatkan produktivitas ilmuwan dalam melakukan penelitian, percobaan dan inovasi. Meningkatnya produktivitas karya ilmiah yang dihasilkan ilmuwan akan mendorong terbitnya media komunikasi ilmiah yang mengkomunikasikan hasil kegiatan ilmiah, dari seorang ilmuwan dengan ilmuwan lain pada masanya maupun masa sebelum dan sesudahnya. Media komunikasi yang dimaksud dapat berupa buku atau majalah ilmiah.

            Peningkatan intensitas komunikasi ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatkan kerjasama antar ilmuwan dalam menghasilkan karya sama. Dalam komunikasi ilmiah, karya sama antar lebih dari satu orang dan/atau lembaga untuk menghasilkan karya sama disebut kolaborasi. Kajian kolaborasi merupakan salah satu dari metode bibliometrika, yang bertujuan memberikan gambaran tentang cara mengukur dan menganalissa proses komunikasi terekam.

Bibliometrika merupakan bagian dari informetrika yang mengkaji aspek kuantitatif informasi terekam (recorded) dengan tujuan untuk mencari bentuk-bentuk keteraturan dalam proses komunikasi formal. Menurut Boyce, Meadow, dan Kraft, (1994) Bibliometrika merupakan studi mengenai produksi dan penyebaran informasi yang secara operasional dikaji melalui produksi dan penyebaran media yang merekam informasi untuk disimpan dan disebarluaskan.

Bibliometika adalah aplikasi metode statistik dan matematik terhadap buku dan media lainnya dari komunikasi terekam (Prithchard, 1969:349) atau suatu kajian kuantitatif dari literatur yang digambarkan dalam bibliografi (white dan Mc.Cain, 1989:119).

Istilah bibiometika myulai diperkenalkan tahun 1969 oleh Pritchard tahun 1969 yang menggunakannya untuk mengkaji proses komunikasi tertulis secara kuantitatif. Fairthone (1969) mendefinisikan bibliometrika sebagai kajian kuantitatif dari komunikasi tercetak dan sifat-sifat yang ditimbulkan. Definisi Fairthone menunjukkan bahwa penerapan bibliometrika terbatas pada pengkajian secara kuantitatif informasi terekam. Patter )dalam Sengupta, 1992:77) memberikan definisi sedikit berbeda , yaitu sebagai kajian dan ukuran dari pola publikasi dalam semua bentuk komunikasi terekam dan penulisnya, sedangkan Nicholas dan Richie pada tahun 1978 menekankan bahwa lingkup kajian bibliometik bertujuan untuk menyediakan informasi tentang pengetahuan dan bagaimana mengkomunikasikannya.

Dalam bibliometrika, yang dikaji adalah informasi terekam, khususnya informasi dalam bentuk grafis. Dengan demikian objek kajiannya  adalah buku, pengarang (hasil karyanya), majalah, laporan penelitian disertasi dan sebagainya. Pada kenyataanya kajian bibliometrik lebih banyak ditujukan kepada majalah ilmiah, karena majalah jenis ini diangap menduduki peran (ter) penting  dalam komunikasi ilmiah (Basuki. 1990;16)

            Kajian bibliometika merupakan penerapan dari sosiologi ilmu pengetahuan (Wallace, 1987:47). Selain sebagai penerapan sosiologi ilmu, kajian bibliometrik juga digunakan untuk analisis sitasi guna meneliti kualitas publikasi individu, peneliti unggulan dan wibawa lembaga penelitian (Lawani, 1981:311) Penerapan lainnya dalam kajian bibliometrik adalah penelitian kolaborasi.

 

Kajian Analisis Sitiran

Analisis sitiran antara lain digunakan untuk mengukur kesamaan atau hubungan antara pasangan dokumen. Menurut Ikpaahindi (1985) metode bibliometrika dapat dilakukan dengan cara penghitungan sitiran langsung (direct citation counting), pasangan bibliografi (bibliographic coupling) dan analisis co- sitiran (co-citation analysis). Metode tersebut didasarkan pada hubungan anatara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir.

            Hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir dapat ditelusuri melalui motivasi, tujuan, dan fungsi sitiran. Frost (1979) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengemukakan bahwa fungsi sitiran dalam bidang humaniora dapat diklasifikasikan sebagai dokumentasi sumber primer dan sekunder untuk mendukung opini dan pernyataan faktual baik di dalam maupun di luar topik dokumen yang menyitir terhadap dokumen yang disitir, dan untuk menyediakan informasi bibliografi.

            Hodges (1978) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengidentifikasi indikator hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir yaitu sebagai penjelasan, memberikan informasi umum, hubungan historis, hubungan  “saudara kandung”,  hubungan operasional, hubungan kolaboratif, memberikan informasi spesifik, dokumentasi, hubungan metodologis dan hubungan korektif.

            Liu (1993) juga mengutip hasil penelitian Perist (1983) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran dalam bidang ilmu sosial dan ilmu-ilmu yang berhubungan yaitu sosiologi, pendidikan, demografi, epidemiologi, dan perpusatakaan. Ditemukan bahwa fungsi sitiran dalam bidang ilmu tersebut dapat diklasifikasikan sebagai: penempatan tahapan studi, memberikan informasi latar belakang, acuan metodologi (disain dan analisis) memberikan komparasi, memberikan argumentasi/spekulasi/hipotesis, dokumentasi, dan memberikan informasi secara kebetulan.            Sementara itu dari sumber yang sama ditemukan kutipan dari Cole (1975) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran sebagai berikut: memberikan informasi implisit dalam analisis, mendukung dan mengesahkan ide dan interpretasi pengarang, memperluas dan memodifikasi teori yang digunakan sebagai bagian dari teori yang dimiliki pengarang, digunakan untuk menginterpretasikan hasil studi, digunakan untuk memformulasikan masalah penelitian dan lain-lain.

            Dari berbagai fungsi sitasi seperti yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa antara dokumen yang disitir dan dokumen yang menyitir terdapat hubungan subyek pada tingkat tertentu. Berdasarkan hubungan tersebut maka dapat dicari hubungan antara 2 (dua) dokumen yang menyitir dokumen yang sama. Kessler (1963) berusaha mencari hubungan antara kedua dokumen tersebut dengan memperkenalkan konsep pasangan biblografi (bibliographic coupling) yang menyatakan bahwa bila 2 (dua) dokumen menyitir paling sidikit  satu dikumen yang sama , maka kedua dokumen tersebut berpasangan secara bibliografi. Kemudian Kessler (1965) membandingkan pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek. Dari penelitiannya disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata antara pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek secara analitik.

            Banyaknya dokumen yang disitir secara bersama oleh pasangan dokumen disebut sebagai frekuensi pasangan atau kekuatan pasangan (Coupling strength) Dari penelitian ditemukan adanya hubungan antara kekuatan pasangan dengan keterhubungan subyek antara dua dokumen (Harter , 1971 ; Vladuzt dan Cook, 1984; Hasibuan, 1995)

            Adanya hubungan antara pasangan bibliografi dengan keterhubungan subyek dimanfaatkan untuk memperbaiki efektivitas temu kembali informasi. Ditemukan bahwa efektivitas temu kembali meningkat dengan menggunakan pencarian berdasarkan kata kunci atau indeks dan pencarian sitasi (Chapman dan Subramanyam, 1981; White, et al, 1984: Pao, 1986; Pao dan Worthen, 1989; Mc Cain, White dan Griffith, 1987; Mc.Cain , 1989; Shaw, 1990; Pao, 1993)

 

Kajian Kolaborasi

            Kajian kolaborasi digunakan untuk mengetahui produktivitas penulis dan untuk menghitung tingkat kolaborasi, berdasarakan asal organisasi dan kedudukan penulis. Pendekatan lainnya digunakan untuk membandingkan tingkat kolaborasi antar lembaga dan antar disiplin ilmu dalam suatu negara serta kondisi yang melatarbelakangi penulis dalam melakukan kolaborasi.

            Kolaborasi merupakan terjemahan dari kata colaboration yang artinya kerjasama, namun dalam hal ini lebih tepat dipergunakan istiulah kolaborasi karena dalam berbagai kejadiaan, khususnya sejarah dikenal istilah kolaborator (Basuki, 1990: 12). Istuilah kolaborasi mempunyai pengertian yang mencakup semua kegiatan yang ingin dicapai dan mempunyai tujuan serta manfaat sama, sedangkan pengertian istilah kerjasama mengacu pada cara pengertian mencapai tujuan masing-masing dengan cara bekerja sama. Dalam hal ini, walaupun tujuan yang ingin dicapai sama tetapi tidak selalu menguntungkan kedua belah pihak. Kerjasama atau kolaborasi terjadi apabila lebih dari satu orang/lembaga bekerjasama dalam suatu kegiatan penelitian dengan memberikan sumbangan dalam bentuk ilmu pengetahuan dan tindakan yang sifatnya intelektual maupun material (Subranyaman, 1983:34)

            Kerjasama oleh beberapa penulis lebih dari satu orang sudah banyak dilakukan, terutama dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan. Lazimnya ilmuwan tidak bekerja secara sendirian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan karena mereka saling membutuhkan. Kerjasama penelitian secara internasional yang dilakukan antara ilmuwan Cina dengan ilmuwan Amerka diberi nama Sino-American, yaitu kerjasama dalam penelitian biomedical dan training (Malbon, 1991)

            Konsep kolaborasi tumbuh dari anggapan bahwa ada kalanya karya penelitian  tidak dapat dikerjakan seorang diri, sehingga dibutuhkan bantuan penuls lain. Jika dilihat dari sumbangannya , bantuan tersebut dapat bermacam-macam bentuknya. Bantuan dalam penelitian dapat berupa penyediaan sumber data, korespondensi lewat surat, pertukaran gagasan, kunjungan ke laboratorium di tempat lain, dan tukar menukar makalah (Frame dan Carpenter, 1979: 481). Jika dilihat dari bentuk kerjasama antar ilmuwan dalam menghasilkan suatu karya sama maka dikenal bentuk kolaborasi sebagai berikut:

  1. Kolaborasi dosen-mahasiswa. Kolaborasi bentuk ini terjadi jika dosen dan mahasiswa melakukan kerja sama untuk menghasilkan karya sama. Kolaborasi bentuk ini sering dijumpai dilingkungan perguruan tinggi, dimana dosen memberikan gagasan dan petunjuknya, dan mungkin berikut biayanya, sedangkan asisten dosen dan mahasiswa yang melaksanakannya. Hasilnya berupa laporan penelitian, makalah atau artikel dengan mencantumkan nama dosen dan mahasiswa.
  2. Kolaborasi sesama rekan sejawat. Kolaborasi ini merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh beberapa orang dalam satu lingkungan kerja, untuk menghasilkan satu karya sama. Kolaborasi ini sering terjadi di lembaga-lembaga penelitian, dimana beberapa orang melakukan penelitian secara bersama, baik dalam bentuk suatu penelitian atau lebih, dan masing-masing orang menyumbangkan keahliannya dalam berbagai aspek penelitian.
  3. Kolaborasi penyelia (supervisor) asisten. Kolaborasi jenis ini merupakan karya sama antara peneliti dengan asistennya. Dalam penelitian yang dilakukan di laboratorium, adakalanya peneliti urtama berkolaborasi dengan asisten laboratorium atau teknisi laboratorium.
  4. Kolaborasi Peneliti-konsultan. Kolaborasi semacan ini biasanya dilakukan dalam skala besar. Untuk penelitian perorangan atau oleh satu tim, peneliti dapat bekerjasama dengan konsultan atau lembaga konsultan, khususnya dalam hal pengumpulan data serta pengolahan dan analisis data.
  5. Kolaborasi antar lembaga. Ilmuwan dan teknisi dari lembaga yang berbeda bekerjasama dalam melakukan penelitian yang berguna untuk masing-masing lembaga tersebut.
  6. Kolaborasi Internasional. Kolaborasi yang menyangkut beberapa negara atau kerjasama penelitian antar ilmuwan/peneliti dari beberapa negara. Kolaborasi internasional lebih cenderung mengacu tepat jika dilihat pada lokasi penelitian, sehingga ada kolaborasi lokal, regional, nasional dan internasional.

 

Kajian bibliometrik terhadap karya kolaborasi lebih banyak ditujukan pada ko-penulis dari pada sub-penulis, karena parameternya lebih jelas, batasnya tampak dan mudah diukur. Pada konsep ko-penulis, kolaborasi dikerjakan secara bersama-sama dan nama-nama pengarang disebutkan satu persatu dalam karyanya, sedangkan pada konsep sub-penulis, merupakan penulis yang memberikan bantuan teknis dan teoritis, sehingga namanya tidak disebutkan dalam karyanya sebagai pengarang. Untuk menghargai jerihnya biasanya nama sub-penulis disebutkan dalam pendahuluan atau catatan kaki. Selanjutnya, dalam kajian kolaborasi yang menjadi objek penelitiannyanya adalah co-penulis, sesuai dengan pertimbangan yang diberikan Subranyaman (1983:34) tentang kemudahan yang terdapat pada kajian ko-penulis antara lain:

  1.  
    1. tidak bervariasi
    2. mudah diperoleh dan dihitung
    3. dapat dihitung
    4. non-aktif artinya proses penilaian kolaborasi tidak mempengaruhi terjadinya proses kolaborasi itu sendiri.

 

Untuk ukuran kolaborasi, Egghe   (1991) menyatakan bahwa kolaborasi biasanya diungkapkan melalui sebuah himpunan makalah yang ditulis secara bersama-sama atau ditulis kelompok peneliti. Kolaborasi menunjukkan kerjasama atau hubungan antar individu dalam kelompok sosial. Dalam penelitian ini penulis tidak membatasi pada satu titik pandang saja, melainkan bekerja dalam kerangka “kotak” yang jelas yang memiliki “objek” sebagai berikut:

1  2  3                  3   4                         1   3                    5   6                      3           4

 

Gambar 1 : contoh sistem kolaborasi.

 

Pada gambar 1 tersebut di atas apabila berpegang pada pengertian makalah yang ditulis bersama (co-authored papers), ditemukan satu makalah yang ditulis oleh tiga pengarang (pengarang 1,2,3), tiga makalah yang masing-masing ditulis oleh dua pengarang (pengarang 3,4; 1,3 dan 5,6) dan dua makalah lagi masing-masing oleh satu  pengarang (pengarang 3; 4 dan 6).  Bentuk sistem kolaborasi yang lain dapat dilihat dari skema berikut:.

1    2            3                  3   4             1   3          5          6            3           4         6

 

Gambar 2: Bentuk sistem kolaborasi yang lain

 

Secara sepintas dapat dilihat bahwa sistem dalam gambar 1 menunjukkan sistem yang lebih kooperatif dari pada yang ada pada gambar 2 walaupum masing-masing pengarang menyumbangkan jumlah makalah yang sama.

            Untuk mengukur tingkat kolaborasi, Egghe (1991) mengajukan 8 persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem kolaborasi yaitu :

 

1.      Syarat pertama.

 Jika semua X… = 0 dengan ketentuan bahwa j adalah jumlah penulis yang berkolaborasi (j=2,3,4….q) dan I tidak sama dengan i’, maka g (x….) = 0. Jika dituliskan dalam bentuk notasi adalah : g (x    ; i, i’= 1,2….n; j = 1,2….q) = 0, ini berarti bahwa jika dlam satu makalah hanya terdapat satu pengarang maka pengarang itu tidak berkolaborasi, sehingga g = 0

2. Syarat kedua.

Nilai maksimal kolaborasi adalah (g(x    ) =1) dengan ketentuan bahwa jumlah pengarang yang berlainan dalam satu makalah adalah lebih dari satu (atau n>1) seperti yang terlihat dalam gambar 3.

 

            1  2  3  …..n                            1  2  3  ….n                   1   2   3  …n

 

                                                       n

Gambar 3: Jumlah pengarang yang berlainan dalam satu makalah

 

3.      Syarat ketiga

Nilai g (x    ) pada syarat di atas akan selalu berada pada interval  0 dan 1, yang dapat dituliskan dengan notasi : 0<g (x…) <1 atau 0<g<1

 

4.      Syarat keempat

Jika terdapat dua situasi kolaborasi (x…..) dan (y   ) dengan ketentuan a adalah anggota dari N (a ε N) maka berlaku Y    = a X    . Disamping itu untuk setiap i, i’= 1,2….n d; dan j = 1,2,….q; juga berlaku : g (y….)= g (x….)

 

5.      Syarat kelima

Dari syarat keempat dia tas dapat diartikan bahwa, jika terdapat dua situasi kolaborasi yang  berbeda, dimana p adalah permutasi dari (1,2,….n) yang mengubah situasi pertama ke dalam situasi kedua, maka g (X….)= g (x….    ) = 0 berlaku untuk semua i, i’= 1,2….n d; dan j = 1,2,….q;. Dengan kata lain, dua situasi kolaborasi yang tidak sama akan mempunyai nilai yang berbeda pada situasi yang berlainan.

 

6.      Syarat keenam

Jika ke dalam sebuah kotak satu objek ditambah lebih dari satu objek menjadi satu situasi baru, dan g adalah situasi kedua, maka g pada situasi pertama lebih besar dari g pada situasi kedua, dengan kata lain g pada situasi kedua akan lebih rtendah nilainya dari pada g pada situasi pertama. Alasannya, jika dua situasi kolaboratif adalah sama, maka g pada situasi kedua adalah lebih kecil dari g pada situasi pertama.

7.      Syarat ketujuh

Jika u : RÞ → R, sebuah fungsi dengan nilai tertentu, dengan ketentuan bahwa p adalah dimensi ruang R (dengan p adalah bilangan tertentu). Andaikan X dan Y adalah anggota dari RÞ, dengan ketentuan bahwa X terdiri dari x, x, …xⁿ; dan Y terdiri dari   dari y, y, …yⁿ, maka dapat dikatakan bahwa fungsi  u adalah konkaf.  Selanjutnya untuk setiap X dan Y yang menjadi anggota R…(X,Y ε R… untuk X =  (x, x, …x …) dan Y = (y, y, …y…)) Selanjutnya fungsi u adalah konkaf jika untuk setiap X,Y ε R… dan setiap l ε (0,1), maka berlaku persamaan berikut: u (lX + (1-l)YÊ l u (X) ++ (1-l)u(Y). Ini berarti bahwa nilai u merupakan sebuah titik yang terletak pada ruas garis di antara dua titik. Dengan kata lain u berfungsi sebagai kombinasi linier terhadap dua titik tersebut.

8.      Syarat kedelapan

Jika terdapat dua situasi kolaborasi yang ditunjukkan oleh (Xi,i’ ) Kemudian pada situasi pertama ditambahkan lebih dari satu kotak (lebih dari satu makalah) dengan dua objek untuk setiap situasi, maka objek dalam kotak baru akan muncul bersama paling sidikit satu kali dalam kotak yang lain. Sementara pada sirtuasi kedua, dua objek dalam kotak baru akan digabungkan demngan pada situasi pertama. Dengan demikian nilai kolaborasi pada situasi kedua adalah lebih tinggi dari pada situasi pertama.

            Tingkatan kolaborasi untuk masing-masing disiplin ilmu berbeda. Secara umum dinyatakan bahwa kolaborasi untuk ilmu humaniora tingkat kolaborasinya rendah, karena dalam bidang ilmu ini lebih banyak difokuskan pada karya cipta yang lazimnya hanya dilakukan oleh satu orang pengarang. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial kolaborasi lebih tinggi tetapi masih dibawah sains dan teknologi (Basuki, 1990:15). Untuk bidang ilmu Ekonomi, pekerjaan Sosial dan sosiologi, prosentase karya kolaborasi berkisar antara 17-25% dari seluruh karyanya. Untuk bidang Gerontologi, Psikiatri, psikologi dan biokimia kolaborasi yang dilakukan mencapai 48-81% dari seluruh karyanya. Tingkat kolaborasi biasanya dipengaruhi oleg berbagai faktor seperti ketersediaan dana, sifat masalah dan lingkungannya.

            Kajian tentang tingkat kolaborasi telah dilakukan oleh banyak peneliti untuk masing-masing disiplin ilmu di luar negeri. Penelitian yang dilakukan oleh Derek de Solla Price (1963 dalam Sulistyo basuki 1992: 3) menyatakan bahwa perbandingan karya kolaborasi makin meningkat sejak permulaan abad 20, dan diramalkan pada tahun 1980 tidak ada lagi karya yang ditulis oleh satu orang. Pada kenyataan ramalan tersebut tidak terbukti. Pada tahun 1964 ramalan Price ditentang oleh Beverly Clark (1964) yang menunjukkan bahwa literatur biomedika antara tahun 1934 sampai 1963 jumlah rata-rata pengarang per makalah tetap adalah 2 dan 3 orang penulis (Crake, 1964:823)

            Beaver dan Rosen mengkaji sejarah penelitian kolaborasi sejak abad 17 hingga sekarang. Hasil dari kajian tersebut menyatakan bahwa kolaborasi dalam penelitian berhubungan dengan profesionalitas dari penelitinya, yang umumnya mengarah pada produktivitas yang lebih besar dan memperkaya mobilitas dan peranan ilmuwan (Pao, 1982:38). Dalam bidang musik Pao (1982) meneliti hubungan antara kolaborasi dengan produktivitas dalam bidang musik, hasilnya menunjukkan bahwa 15% karya dari seluruh karya yang ada dibuat secara berkolaborasi dan juga merupakan peneliti yang produktif. Di lain pihak Reptis (1992) meneliti karakteristik kepengarangan pada lima jurnal Internasional Ilmu Perpustakaan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 13,54% makalah dihasilkan melalui kolaborasi, dan sisanya 86,46% dihasilkan oleh pengarang tunggal.

            Sejauh yang diketahui, penelitian kolaborasi di Indonesia masih sedikit. Penelitian yang pernah dilakukan tahun 1987 oleh Sumaryanto meneliti tentang karya kolaborasi dalam majalah ilmiah terbitan tahun 1982 yang terdaftar dalam indeks majalah ilmiah Indonesia 1982-1985. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kepengarangan tidak hanya terpaku pada kepengarangan bersama tapi juga kepengarangan tunggal. Derajat karya sama pada bidang ilmu terapan lebih besar dibandingkan dengan kelompok bidang ilmu lainnya, dan kaum humanis cenderung bekerja sendirian.

            Tahun 1992 Sulistyo basuki meneliti tentang kolaborasi penulis bidang kedokteran dan pertanian di Indonesia tahun 1952-1959, dan tahun 1993 meneliti kolaborasi penulis di bidang kedokteran di Indonesia pada Majalah Kedokteran Indonesia tahun 1981-1988. Penelitian lain dilakukan oleh Banu Susanto tahun 1994 yang meneliti tentang kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menggunakan koefisien kolaborasi dari Egghe (1991) dan sebagai pembanding digunakan rumus dari Subramayan (1983)

 

Referensi:

Beaver, B de B and Rosen R. “Studies in Scientific Collaboration” Scientometrics 1(1), 1978:65-84

Clarke, Beverly L.” Multiple authorship trends in scientific papers,” Science 143 (3608) , 1964:822-824

Egghe, L. “Theory of collaborative Measures,” Information Processing & management, 27 (2-3), 1991:177-202

Fairthorne, Robert A. “Empirical hyperbolic distributions (Bradford-Zift-Medelbrot) for bibliometric description and prediction” Journal of documentation 25, 1969:319-343

Frame, J. Davidson and Mark P Carpenter. “International research collaboration” Social studies of science 9, 1979: 481-497

Lawani, SM. Bibliometric:Its theoritical foundation, methode and application. Libri 31(4), 1981:294-345

Malbon, Craig C. “Sino –American coolaboration in biomedical research and training” The America Physiological Society, 1991

Pao, Miranda Lee. “Coauthorship as communication measure,” Library research 2. 1981: 327-338

Price, Derek J de Solla. Little science big science. New York : Columbia University Press, 1963

Raptis, Paschalis. “Authorship characteristic in five international library sciencejournals,” Libri 4(1) 1992:35-52

Shaw, W.M” International Theory and scientific communication,” Scientometrics 3(3), 1981:235-249

Subramanyam, K. “Bibliometric studies of research collaboration a review,” Journal of Information Science, 6(1). 1983:33-38

Sulistyo Basuki.”Kolaborasi penulis kedokteran Indonesia 1981-1988” Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi 1(1), September 1993:1-15

Wallace, Danny P “A solution in search of a problem. Bibliometrics &Libraries” Library Journal, May I, 1987: 43-47.

White, Howard D; McCain, Katherine W.”Bibliometric”. Annual Review of Information Science and technology (ARIST),4, 1989:119-186

 

 


Responses

  1. Hallo Margaret,
    Artikel-artikel tentang paruh hidup (Half life) literatur dulu saya peroleh dari jurnal-jurnal di PDII LIPI
    atau di perpustakaan pusat UI atau dapat menghubungi prof sulistyo Basuki yang sangat baik hati……di Jl Bandeng Raya no 9 Rawamangun Jakarta. Selamat searching!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: