Posted by: Funny Wiranata | October 9, 2008

Analisis Sitiran

1          Informasi

1.1       Pengertian Informasi

            Dalam peradaban zaman yang semakin kompleks sekarang ini, setiap orang, setiap kelompok orang atau organisasi, mempunyai kebutuhan informasi yang cukup banyak. Namun pengertian informasi tetap mempunyai batasan dan perlu pengertian yang jelas. Apalagi bagi orang-orang yang berkecimpung dalam bidang tersebut seperti wartawan, peneliti, pustakawan, ahli informasi, dan sebagainya. Menurut Sulistyo Basuki (1995: 2) ada 2 ancangan menyangkut informasi, ialah ancangan menurut definisi dan ancangan menurut pengertian. Untuk memberikan batasan berikut ini akan dibahas definisi menurut para ahli.

            Gordon B. Davis dalam Effendy (1996) berpendapat bahwa informasi adalah data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu atau keputusan mendatang. Penekanan Davis pada definisi informasi tersebut adalah bagaimana informasi berarti dalam pengambilan keputusan.

Secara gamblang definisi tersebut diperkuat oleh Estabrook (1977:245) dalam Yusup (1995: 9) yaitu informasi adalah suatu rekaman fenomena-fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan-putusan yang dibuat. Dalam pengertian tersebut, Estabrook menambahkan rekaman-rekaman fenomena yang juga dianggap sebagai informasi. Rekaman fenomena tidak begitu saja ada dengan sendirinya. Pasti ada seseorang atau individu yang telah memahami suatu gejala dan merekamnya dalam berbagai media. Sebagaimana Rudi Bretz secara gamblang menyatakan, “informasi adalah apa yang dipahami”. (Effendy, 1996:77). Hasil rekaman fenomena tersebut tentu saja belum dikatakan sebagai informasi sebelum sampai kepada individu yang mendengarnya. Karena bagaimana pentingnya informasi dikatakan oleh Samuel Eilon seumpama darah yang mengalir (Effendy, 1996: 78).

            Disinilah pentingnya membatasi informasi itu sendiri, karena nalar manusia tidak akan bisa menjangkau keseluruhan informasi yang ada dan setiap saat informasi itu lahir. Segala sesuatu tentang alam yang maha luas ini, termasuk segala peristiwa yang terjadi di dalamnya adalah awal dari informasi. Dan dengan cara merekamnyalah manusia dapat mengembangkannya bagi pola kehidupannya.

            Pada penuturan diatas informasi hanyalah berdasarkan definisi dari berbagai rujukan namun tidak dapat merinci ciri-ciri informasi. Untuk memperjelas apa yang dimaksud informasi itu sendiri maka perlu diungkapkan ciri-ciri informasi. Maka Machlup (1984) sebagaimana dikutip Basuki menyebutkan interpretasi informasi sebagai berikut:

1.      Sebagai sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya

2.      Petunjuk atau gelagat untuk memecahkan sesuatu

3.      Sesuatu yang mempengaruhi apa yang telah diketahui seseorang.

4.      Bagaimana data diinterpretasikan.

5.      Sesuatu yang bermanfaat bagi orang yang menerimanya.

6.      Sesuatu yang berguna bagi pengambilan keputusan.

7.      Sesuatu yang mengurangi ketidakpastian.

8.      Makna kata dalam kalimat.

9.      Sesuatu yang membubuhi apa yang telah dinyatakan.

10.  Sesuatu yang mengubah apa yang dipercayai atau diyakini seseorang yang menerimanya.

 

Sebagaimana diungkapkan Prof. Sulistyo Basuki dalam Pidato Pengukuhannya sebagai Guru Besar UI, menyatakan bahwa “pemahaman tentang sifat dasar informasi seringkali dikacaukan oleh kenyataan bahwa kata informasi digunakan dalam berbagai konteks dalam kehidupan sehari-hari.” Yaitu:

Informasi sebagai komoditi. Konsep ini mengacu pada sesuatu pada sebuah buku, dalam benak seseorang, dalam berkas perusahaan atau statistik Bila informasi dianggap sebagai komoditas maka informasi seringkali diasumsikan memiliki nilai ekonomi sehingga manajemen ekonomi menjadi penting. Maka muncullah ungkapan seperti “Information is Power” yang berarti bila seseorang atau badan korporasi memiliki penguasaan atas informasi yang dimilikinya akan membantu individu atau badan korporasi mencapai sasarannya. Jadi informasi memungkinkan kontrol atas objek dan manusia.  

Informasi sebagai energi. Mereka yang memandang sebagai energi menganggap sebagai wujud fisik terhitungkan, keberadaannya atau ketidakberadaannya dapat diuji berdasarkan eksperimen. Pendapat ini menyatakan bahwa informasi yang dipancarkan atau terikat dalam bentuk energi. Sebagai contoh informasi yang dipancarkan oleh gelombang suara yang berasal dari seruling kereta api memeri informasi sebagai energi.

Informasi sebagai komunikasi. Informasi sering disinonimkan dengan komunikasi. Bila seseorang berkomunikasi dengan orang lain, maka orang yang memprakarsai pertukaran data memberikan atau memancarkan pemahamannya tentang data ke orang yang menerimanya. Bila data diterima orang lain, maka si penerima dikatakan diinformasikan sebagai hasil komunikasi, dikenal pula dengan seebutan transfer informasi. Bila hanya data aktual saja, tidak termasuk maknanya, maka terjadilah transmisi data, lebih mengarah pada rujukan fisik atau gerakan sinyal.

Informasi sebagai fakta. Informasi seringkali dianggap sama dengan fakta. Hari apakah sekarang? Kapan ulang tahun anda? Bila informasi digunakan demikian maka  sebenarnya tidak berarti ada penggunaan fakta aktual, walaupun tanggal ulang tahun digunakan untuk tujuan lain misalnya untuk membeli bunga atau kado. Fakta harus ditempatkan dalam konteksnya, jikalau tidak maka fakta tetaplah fakta.

Informasi sebagai data. Kerancuan ini timbul akibat pemahaman tentang fakta dan data. Data merupakan simbol yang ditata menurut ketentuan dan konvensi yang berlaku, misalnya bila kita menyusun huruf dan angka menurut cara tertentu maka huruf dan angka ini meenjadi data. Fakta adalah sebuah data atau lebih yang tergabung dalam konteks. Bila kita menganggap data sinonim dengan informasi maka kita membahas informasi tanpa adanya makna atau konteks.

Informasi sebagai pengetahuan. Pengetahuan mengimplikasi keadaan pemahaman diluar kesadaran. Pengetahuan merupakan kemampuan intelektual untuk meramalkan di luar fakta dan menarik kesimpulan. Pengetahuan harus disimpulkan tidak hanya disadari. Apa yang kita “ketahui” atau “pikir” sering disebut informasi.  (Basuki, 1995: 3-4) 

 

 

1.2       Kebutuhan Informasi Seseorang

            Tanpa informasi, manusia tidak bisa berperan banyak dalam lingkungannya. Semua kegiatan membutuhkan informasi yang tepat supaya arah kegiatan tersebut bisa dikendalikan dengan baik sesuai dengan tujuan dan pengelolaan kegiatan yang bersangkuatan. Orang tidak perlu mengetahui semua jenis informasi yang ada di alam ini, baik informasi yang dirancang khusus untuk tujuan kemanfaatan kehidupan manusia maupun informasi yang tersedia apa adanya secara bebas di alam. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari informasi yang ada bisa didapat atau memang diperlukan oleh manusia karena hal ini disesuaikan dengan bidang minat dan kegiatan yang menjadi pekerjaannya.

            Penelitian yang dilakukan Katz, Gurevitch, dan Hass (dalam Tan, 1981: 300) menemukan bahwa orang yang tingkat pendidikannya tinggi lebih banyak mempunyai kebutuhan dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah. Ini berarti bahwa orang yang mempunyai tingkat pendidikan relatif tinggi, seperti guru, dosen dan peneliti, misalnya, lebih banyak mempunyai kebutuhan akan sesuatu yang bisa memuaskannya, dan lebih banyak mempunyai tujuan yang berkaitan dengan permasalahan kehidupannya daripada orang-orang pada umumnya. Hal ini terjadi karena pada umumnya orang lebih senang berpikir simpleks daripada orang-orang yang berpendidikan tinggi yang lebih banyak menggunakan pola pikir multipleks. Setiap orang membutuhkan informasi sebagai bagian dari tuntutan kehidupannya, penunjang kegiatannya, dan pemenuhan kebutuhannya. Rasa ingin tahu seseorang timbul karena ia ingin selalu berusaha menambah pengetahuannya. Kretch, Crutchfield, dan Ballachey (1962:99) lebih jauh menjelaskan bahwa karena adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, seseorang termotivasi untuk mencari pengetahuan, bagaimana caranya agar dapat memecahkan masalah tersebut. Salah satu caranya adalah mencari tambahan pengetahuan melalui membaca berbagai media bahan bacaan yang sebagian besar tersedia di perpustakaan atau pusat-pusat informasi.

1.3  Jenis-Jenis Informasi

Informasi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu informasi terekam dan informasi tidak tererkam. Dari sudut pandang perpustakaan, jenis informasi terekamlah yang diolah secara khusus. Karena informasi terekamlah yang paling bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan manusia dibandingkan informasi lisan yang sulit diukur.

Informasi terekam banyak digunakan oleh berbagai kalangan, baik secara perseorangan maupun dalam bermasyarakat, berorganisasi dan bergaul dengan sesama anggota masyarakat umumnya, terutama bergaul yang bertujuan mengarahkan diri kearah yang lebih baik. Para siswa, guru, dosen, peneliti, dokter, ahli hukum, jenis-jenis jabatan dan pekerjaan lainnya, sebagian besar banyak didukung oleh adanya jenis informasi terekam.

Informasi terekam ini kemudian dibagi lagi menjadi informasi yang tidak ilmiah dan ilmiah. Informasi tidak ilmiah, hanya berupa informasi biasa yang terdapat  dimana-mana, seperti informasi tentang meninggalnya seseorang yang dimuat di surat kabar, informasi dalam bentuk berita keluarga, dan iklan komersial yang dipasang diberbagai media lainnya. Yang berikutnya adalah informasi ilmiah, yaitu rekaman informasi yang dirancang secara khusus atau yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ilmiah dan penelitian untuk pengembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) membutuhkan informasi, sekaligus menghasilkan informasi. Sebagaimana Datta (1980) dalam Sophia (1982) menyatakan bahwa “Informasi adalah batu sendi peradaban modern. Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai proses penggunaan informasi untuk menciptakan informasi baru”. Sebagai konsekuensi logis perkembangan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dewasa ini, informasi menjadi berkembang sangat cepat sehingga orang sering mengatakan bahwa adanya ledakan pengetahuan menimbulkan ledakan informasi.

Dengan adanya ledakan pengetahuan (knowledge explosion) sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan penelitian ilmiah, maka semakin banyak informasi baru bermunculan. Pengetahuan ini dilestarikan dengan direkam kedalam suatu dokumen seperti buku, majalah, surat kabar, film, disket, mikrofis, laporan hasil penelitian, proseding, mikrofilm dan media perekam lainnya.

Informasi ilmiah kepustakaan dalam dunia pun masih bisa dibedakan antara yang primer, sekunder, dan tersier.

1.  Informasi primer adalah informasi yang diterbitkan pertama kali dari penerbit atau dari sumbernya secara lengkap dan asli, misalnya tulisan dalam majalah, surat kabar, laporan hasil penelitian, kertas kerja, monografi, laporan hasil seminar, buku teks, buku pedoman, tesis dan disertasi. Informasi jenis ini banyak digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi serta penelitian-penelitian ilmiah.

2. Informasi sekunder adalah jenis informasi yang bertujuan untuk membuka informasi primer. Informasi ini bukan dihasilkan dari sumber pertama yang menerbitkan gagasan, namun hanya sebagai alat untuk menelusuri lebih lanjut keberadaan informasi primer tadi. Contohnya, informasi yang tersimpan dalam buku atau majalah sari (abstrak), buku dan majalah indeks atau indeks artikel yang dibukukan, kartu katalog, file bibliografi, terjemahan dan lain-lain. Termasuk kedalam informasi ini juga seperti pengolahan lanjut dari sumber informasi primer-misalnya kamus dan ensiklopedia. Yang terakhir

3. Informasi tersier, yaitu keterangan atau tulisan dari sumber tertentu yang dapat digunakan untuk mengetahui atau menelusuri sumber-sumber informasi sekunder. Contoh jenis informasi tersier ini antara lain katalog  bahan-bahan referensi dan katalog indeks bidang ilmu tertentu.

 

2.         Analisis Sitiran

2.1       Pengertian Sitiran

Kegiatan penelitian bertujuan untuk menghasilkan temuan-temuan baru (inovasi) yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas suatu komoditas. Untuk itu dalam menyusun rencana penelitian para peneliti membutuhkan dukungan berbagai macam sumber literatur yang relevan dengan bidang yang ditelitinya, baik dari literatur primer maupun dari literatur sekunder yang dihasilkan oleh peneliti lain sebagai data untuk memperoleh peluang dalam upaya menghasilkan temuan baru. Untuk menganalisa validitas dan manfaat hasil temuannya digunakan pula bahan pustaka sebagai bahan rujukan. Sebelum merujuk suatu artikel lebih dahulu perlu menganalisis kebenaran, dapat dipercaya, dan relevansi artikel tersebut. Agar peneliti lain dapat menelusuri kembali bahan yang dirujuk, penulis perlu mengutip dengan lengkap identitas sumber yang digunakan.

Penulisan karya ilmiah tidak dapat melepaskan diri dari keharusan menggunakan berbagai sumber literatur bahan pustaka sebagai kutipan atau sitiran. Bahan pustaka itu digunakan untuk mendukung uraian penulisan, analisa atau sekurang-kurangnya dirangkaikan dengan buah pikiran penulis menjadi suatu bangunan uraian teoritis. Biasanya sumber literatur yang dikutip atau disitir dicantumkan pada daftar pustaka/daftar referensi setiap karya ilmiah atau dalam suatu terbitan. Sitiran digunakan penulis sebagai sandaran ilmiah untuk mengurangi subyektivitas sehingga tingkat obyektivitasnya tinggi dan meningkatkan kualitas karya ilmiahnya. Pencantuman daftar pustaka ilmiah dalam artikel, menurut Soeharjan (2000:20) bukan berfungsi sebagai pajangan, tetapi sebagai dasar penyusunan argumentasi atau sebagai bahan pembahasan terhadap hasil yang diperoleh. Bahan pustaka yang dipakai sebagai bahan rujukan dapat menunjukkan intensitas analisis sumber informasi.

Untuk mengetahui jenis dan sumber literatur yang dibutuhkan para (peneliti) dapat dilakukan dengan suatu kegiatan analisis tentang kebutuhan. Salah satu bentuk analisis yang dilakukan untuk mengetahui kebutuhan para pengguna (peneliti) adalah dengan melakukan analisis sitiran pada setiap tulisan hasil penelitian yang digunakan sebagai bahan rujukan atau daftar pustaka/referensi.

 

Dalam kajian informasi terhadap daftar kepustakaan salah satunya dikenal dengan analisis sitiran (Citation Analysis) . Analisis sitiran digunakan untuk mengukur pengaruh intelektual keilmuan dari pengarang yang disitir, karena beberapa studi sitiran literatur digunakan untuk mengetahui karakteristik komunikasi ilmu pengetahuan dan banyak aspek kualitatif dari penelitian dan publikasi.           

Metode analisis sitiran merupakan salah satu teknik bibliometrika dalam ilmu perpustakaan dan informasi yang mengkaji hubungan antara dokumen yang menyitir dengan dokumen yang disitir. Menurut Busha dan Harter (1986) analisis sitiran adalah untuk mempertanggungjawabkan karya-karya ilmiah, peringkat majalah penting, penambahan literatur yang relevan dengan pertanyaan penelusuran dan untuk mengevaluasi kebutuhan ilmuwan.

Bibliometrika merupakan bagian dari informetrika yang mengkaji aspek kuantitatif informasi terekam (recorded) dengan tujuan untuk mencari bentuk-bentuk keteraturan dalam proses komunikasi formal. Menurut Boyce, Meadow, dan Kraft, (1994) Bibliometrika merupakan studi mengenai produksi dan penyebaran informasi yang secara operasional dikaji melalui produksi dan penyebaran media yang merekam informasi untuk disimpan dan disebarluaskan.

            Metode bibliometrika banyak digunakan untuk mengukur kesamaan atau hubungan antara pasangan dokumen. Menurut Ikpaahindi (1985) metode bibliometrika dapat dilakukan dengan cara penghitungan sitiran langsung (direct citation counting), pasangan bibliografi (bibliographic coupling) dan analisis co- sitiran (co-citation analysis). Metode tersebut didasarkan pada hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir.

            Hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir dapat ditelusuri melalui motivasi, tujuan, dan fungsi sitiran. Frost (1979) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengemukakan bahwa fungsi sitiran dalam bidang humaniora dapat diklasifikasikan sebagai dokumentasi sumber primer dan sekunder untuk mendukung opini dan pernyataan faktual baik di dalam maupun di luar topik dokumen yang menyitir terhadap dokumen yang disitir, dan untuk menyediakan informasi bibliografi.

            Hodges (1978) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengidentifikasi indikator hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir yaitu sebagai penjelasan, memberikan informasi umum, hubungan historis, hubungan  “saudara kandung”,  hubungan operasional, hubungan kolaboratif, memberikan informasi spesifik, dokumentasi, hubungan metodologis dan hubungan korektif.

            Liu (1993) juga mengutip hasil penelitian Perist (1983) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran dalam bidang ilmu sosial dan ilmu-ilmu yang berhubungan yaitu sosiologi, pendidikan, demografi, epidemiologi, dan perpustakaan. Ditemukan bahwa fungsi sitiran dalam bidang ilmu tersebut dapat diklasifikasikan sebagai: penempatan tahapan studi, memberikan informasi latar belakang, acuan metodologi (disain dan analisis) memberikan komparasi, memberikan argumentasi/spekulasi/hipotesis, dokumentasi, dan memberikan informasi secara kebetulan.   Sementara itu dari sumber yang sama ditemukan kutipan dari Cole (1975) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran sebagai berikut: memberikan informasi implisit dalam analisis, mendukung dan mengesahkan ide dan interpretasi pengarang, memperluas dan memodifikasi teori yang digunakan sebagai bagian dari teori yang dimiliki pengarang, digunakan untuk menginterpretasikan hasil studi, digunakan untuk memformulasikan masalah penelitian dan lain-lain.

            Dari berbagai fungsi sitasi seperti yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa antara dokumen yang disitir dan dokumen yang menyitir terdapat hubungan subyek pada tingkat tertentu. Berdasarkan hubungan tersebut maka dapat dicari hubungan antara 2 (dua) dokumen yang menyitir dokumen yang sama. Kessler (1963) berusaha mencari hubungan antara kedua dokumen tersebut dengan memperkenalkan konsep pasangan biblografi (bibliographic coupling) yang menyatakan bahwa bila 2 (dua) dokumen menyitir paling sedikit  satu dokumen yang sama , maka kedua dokumen tersebut berpasangan secara bibliografi. Kemudian Kessler (1965) membandingkan pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek. Dari penelitiannya disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata antara pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek secara analitik.

            Banyaknya dokumen yang disitir secara bersama oleh pasangan dokumen disebut sebagai frekuensi pasangan atau kekuatan pasangan (Coupling strength) Dari penelitian ditemukan adanya hubungan antara kekuatan pasangan dengan keterhubungan subyek antara dua dokumen (Harter , 1971 ; Vladuzt dan Cook, 1984; Hasibuan, 1995)

            Adanya hubungan antara pasangan bibliografi dengan keterhubungan subyek dimanfaatkan untuk memperbaiki efektivitas temu kembali informasi. Ditemukan bahwa efektivitas temu kembali meningkat dengan menggunakan pencarian berdasarkan kata kunci atau indeks dan pencarian sitasi (Chapman dan Subramanyam, 1981; White, et al, 1984: Pao, 1986; Pao dan Worthen, 1989; Mc Cain, White dan Griffith, 1987; Mc.Cain , 1989; Shaw, 1990; Pao, 1993)

Sitiran menurut Thomson dalam Herlina (1995:33) adalah suatu catatan yang menunjuk pada suatu karya atau sebagian karyanya yang dikutip, dan suatu penyitiran dari atau acuan untuk suatu keputusan dan keahlian lainnya. Informasi yang  disitir merupakan hasil kegiatan peneliti terdahulu dan digunakan untuk mempertanggung jawabkan dan mengkomunikasikan hasil kegiatan penelitian.

Artikel yang disitir oleh peneliti sebagai bahan referensi, menurut Margono (2000:55) dapat dipakai sebagai dasar untuk mengukur tingkat keterpakaian artikel dalam suatu majalah. Semakin tinggi frekuensi suatu artikel yang dirujuk, semakin besar pula dampaknya bagi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sitiran tidak dapat dipakai untuk menilai tinggi rendahnya mutu suatu artikel, namun dapat dipakai sebagai indikator tentang peringkat pemanfaatan artikel dan produktivitas penyebarannya.

      Hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir dapat ditelusuri melalui motivasi, tujuan dan fungisi sitiran dalam berbagai bidang ilmu. Liu (1993) seperti dikutip oleh Sulistyo Basuki (2001) mengemukakan bahwa fungsi sitiran dalam bidang humaniora dapat diklasifikasikan sebagai dokumentasi sumber primer dan sekunder untuk mendukung opini dan pernyataan factual baik di dalam maupun di luar topik dokumen yang menyitir dan untuk menyediakan informasi bibliografi.

Dari berbagai fungsi sitiran seperti yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir terdapat hubungan subyek pada tingkat tertentu. Ditinjau dari sudut penyebaran informasi, suatu dokumen merupakan komunikasi formal. Sementara itu, rujukan dan sitiran menghubungkan satu dokumen dengan dokumen lain. Dengan demikian  analisis sitiran dapat digunakan untuk membuat graph komunikasi formal, karena informasi dari suatu dokumen disebarkan ke dokumen lain. Dari analisis sitiran, menurut Sulistyo Basuki (2001) dapat diketahui berapa kali sebuah dokumen menyitir dokumen lain dan sebaliknya. Implikasi analisis tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi seberapa jauh peneliti mengetahui keberadaan dokumen lain, sehingga dapat dilihat lingkungan intelektual (intellectual environment) dari berbagai disiplin ilmu yang dimiliki oleh para peneliti.

Penelitian dengan menggunakan analisis sitiran ini telah banyak dilakukan di berbagai negara. Popovich (1978) meneliti karakteristik literatur untuk bidang bisnis dan manajemen dalam koleksi disertasi. Romanus Beni (2000) meneliti karakteristik literatur untuk bidang demografi. Sandra Dwi Yanti (2001) meneliti karakteristik literatur dalam makalah para peserta diklat LPEM-FEUI. Penelitian lainnya adalah yang dilakukan oleh Raptis. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Raptis (1992) menyatakan bahwa literatur yang paling banyak disitir adalah majalah (41,01%) monograf (29,19%), laporan (12,91%) dan prosiding (5,07%) . Sebaliknya Sulistyo Basuki (2001)  melakukan analisis sitiran majalah Batan tahun 1986-1996, menunjukkan bahwa buku (monograf) merupakan literatur paling banyak disitir yaitu sebesar 40,3%, kemudian majalah 33,7%, prosiding 16,5% dan literature lainnya sebesar 9,54%. Di bidang pertanian, penelitian tentang pemanfaatan sitiran-rujukan yang dilakukan Soeharjan (1994) terhadap salah satu nomor dari 7 publikasi primer yang diterbitkan instansi badan litbang pertanian untuk mengetahui jenis publikasi yang dirujuk. Hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan rujukan pada tujuh publikasi primer tersebut berkisar antara 23-63% artikel primer, 13-56% artikel sekunder, dan 20-50% karya tulis yang tidak diterbitkan. Sebagai pembanding digunakan publikasi primer soil science dan plant breeding yang merujuk antara 78-80% artikel primer, 20-22% artikel sekunder, dan tidak merujuk karya tulis yang tidak diterbitkan. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa proporsi rujukan yang berasal dari artikel primer perlu ditingkatkan, dengan maksud agar sebagian besar dari informasi yang dipakai telah dianalisis kebenarannya, keandalannya, keakuratannya dan validitasnya.

Dalam hal istilah, perlu diberi batasan pengertian sitiran dan rujukan. Kedua istilah ini sering dibaurkan pengertiannya. Rujukan berarti menunjuk pada sesuatu dokumen. Suatu dokumen biasanya mempunyai sejumlah rujukan. Rujukan tersebut dapat berupa catatan kaki dan ada pula yang disusun sebagai suatu daftar pada akhir suatu tulisan. Daftar ini merupakan suatu bibliografi suatu dokumen. Seddangkan pengertian sitiran (citations) menurut ALA Glossary of Library Information Science (1983:43) adalah suatu catatan yang menunjuk pada suatu karya yang dikutip atau beberapa sumber yang memiliki otoritas atau kewenangan atas suatu pernyataan atau masalah.

            Pengertian sitiran digunakan apabila seseorang atau lebih menggunakan sebagian atau seluruh pendapat yang dibuat oleh penulis lain dari dokumen yang disitir. Sebagai contoh,  William W. Beck dalam satu hasil penelitiannya tahun 1960, mencantumkan dalam kepustakaannya karya dari Loyal Davis yang berjudul Text Book of Surgery. Pengarang lain yaitu Peter Duus dalam daftar pustaka dari karyanya tahun 1972, juga mencantumkan  karya Loyal Davis dengan judul buku yang sama. Demikian pula halnya dengan pengarang Lynn S. Bickley tahun 1983, dalam karya ilmiahnya mencantumkan nama Loyal Davis dengan judul yang sama dalam daftar pustakanya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa karya William W. Beck, karya Peter Duus dan karya Lynn S. Bickley mengacu pada karya Loyal Davis. Sebaliknya karya Loyal Davis memperoleh 3 sitiran, yaitu tahun 1960 oleh William W. Beck,  tahun 1972 dari Peter Duus, tahun 1983 dari Lynn S. Bickley.

Price (1980) memberikan pandangan yang juga membedakan pengertian antara rujukan (reference) dan sitiran (citation) dilihat dari bagaimana cara menghitungnya. Price menyatakan bahwa jumlah rujukan dari sebuah karya tulis dihitung dari bibliografi, baik itu berupa catatan kaki maupun catatan akhir, sedangkan jumlah sitiran dari sebuah karya tulis didapat dengan menghitung dalam indeks sitiran (citation index) untuk mendapatkan jumlah karya tulis-karya tulis lain yang terdaftar didalamnya.

Lebih lanjut, Guha dalam bukunya Documentation and Information Work (1978: 253-256), menyebutkan beberapa penggunaan sekunder sitiran:

1.      Dipergunakan sebagai bibliografi

2.      Mempersiapkan daftar peringkat majalah

3.      Dipergunakan sebagai daftar peringkat

4.      Mengetahui hubungan penggunaan berbagai  bentuk dokumen

5.      Mengetahui umur penggunaan dokumen

6.      Mengetahui keterhubungan dan keterkaitan subyek-subyek

7.      Mengetahui asal-usul atau akar dari subyek ilmu

8.      Kajian sitiran dari abstrak/ indeks majalah dan kegunaannya 

 

2.2       Latar Belakang  Analisis Sitiran

Keaslian praktek catatan kaki dan sitiran tidak dapat dengan mudah dijelaskan (Barr, 1966: 16) Tapi praktek tersebut tampaknya telah dikembangkan dalam penulisan ilmiah sejak terbitan ilmiah yang pertama kali dimulai sekitar tiga abad yang lalu. Derek De Solla Price menemukan bahwa nama catatan kaki yang pertama adalah ‘Scholia’ yang artinya “berhubungan dengan ilmu pengetahuan”. Hal ini menunjukkan bahwa praktek catatan kaki dan sitiran berkembang dalam ilmu pengetahuan. Barr menyebutkan sebuah kejadian dimana praktek ilmu pengetahuan dilakukan berlebihan dan disalahgunakan. Dalam sebuah puisi berjumlah 14 baris terdapat 20 daftar yang menjadi rujukan. Kejadian ini adalah hal yang nyata adanya praktek ilmu pengetahuan yang berlebihan yang dijuluki sebagai ‘garland of ibids’ (untaian yang serupa).

Meskipun praktek sitiran memiliki sejarah yang panjang, penggunaan sitiran  bagi orang lain daripada tujuan pendahulunya adalah untuk memperoleh keaslian yang baru. Sebelum menyitir sebuah dokumen dalam penulisan karya ilmiah, tentunya si penulis tersebut telah membaca dokumen yang bersangkutan, berikut alasan-alasan tertentu untuk menggunakan artikel yang akan disitirnya (Sutarji, 2002) Tujuan utama sitiran adalah memudahkan pembaca untuk membaca dokumen lain untuk lebih menambah informasi mengenai subjek yang dibahas, memeriksa keaslian pembahasan, penemuan atau metode tertentu. Setiap sitiran adalah pesan dari penulis dokumen kepada pembacanya. Seorang pembaca dapat menggunakan sitiran sebagai daftar bacaan. Untuk topik tertentu dan mengembangkan topik yang baru daftar bacaan sewaktu-waktu dapat berguna  atau sebagai alat bibliografis terbaik yang dapat digunakan. Karena daftar bacaan memberikan penambahan kualitas dokumen-dokumen yang digunakan, dievaluasi dan direkomendasikan oleh penulis.  Hal ini menunjukkan adanya komunikasi langsung antara penulis dan pembacanya (Guha, 1978: 253). Selain itu tujuan sitiran antara lain sebagai alasan etis, dan menyatakan prestasi pendahulunya sebagai suatu aspirasi yang baru (Basuki: 1984). Lebih lanjut menurut Arjatmo Tjokronegoro (1985: 17), seorang peneliti akan menyitir karya orang lain, karena:

1.      Mungkin ditemukan penelitian-penelitian yang bertalian dengan masalah yang kita hadapi dan sekaligus dapat diketahui bagaimana sarjana lain mengatasinya

2.      Mungkin ditemukan metode-metode atau teknik-teknik yang lebih baik dan tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

3.      Mungkin dapat menggugah pikiran lebih kreatif karena ditemukan data atau fakta yang sebelumnya tidak pernah diketahui.

4.      Mungkin ditemukan dan akhirnya kenal dengan sarjana-sarjana peneliti ulung, walaupun tempat tinggalnya di belahan bumi lain.

5.      Mungkin dapat memberikan gambaran tentang sejarah perkembangan tentang masalah yang diajukan serta cara-cara mengatasinya dari dulu hingga sekarang.

6.      Mungkin dapat memberikan gambaran tentang sejarah perkembangan, tentang masalah yang diajukan serta cara mengatasinya dari dulu hingga sekarang.

7.      Mungkin dapat memberikan angan-angan baru dan pendekatan serta pertimbangan baru dalam menghadapi masalah, padahal sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran.

8.      Mungkin dapat memberikan petunjuk dan menilai hasil penelitian yang kita lakukan sendiri apakah merupakan asli atau hanya bersifat publikasi saja.

 

 2.3      Kajian Analisis Sitiran

Kajian sitiran adalah bagian dari bibliometrika berkaitan dengan studi mengenai hubungan tersebut (Smith, 1981:83). Menurut Ikpaahindi  (1985) metode bibliometrika dapat dilakukan dengan cara penghitungan analisis sitiran langsung (direct citation counting). Sebelum istilah bibliometrika (bibliometric) digunakan, yang dipakai adalah istilah bibliografi statistika. Pada tahun 1922 untuk pertama kali, E Wyndham memakai istilah tersebut. Kemudian digunakan lagi oleh Raisig pada tahun 1962. Raisig mendefinisikan istilah bibliografi statistika yang berhubungan dengan buku dan majalah (Subramanyam, 1980: 347) Bibliografi statistika, bertujuan memberi gambaran mengenai proses komunikasi tertulis dan perkembangan suatu disiplin ilmu dengan cara menghitung dan menganalisa hal dari komunikasi ilmiah (Subramanyam, 1980: 348) 

Penggunaan istilah bibliografi statistika (statistical Bibliography) sering dikacaukan dengan statistika atau bibliografi karya-karya dalam bidang statistik, oleh karena itu Pritchard mengusulkan bibliometrika (bibliometric) untuk menggantikan istilah bibliografi statistika  (statistical bibliography). Menurutnya bibliometrika adalah kajian kuantitatif terhadap komunikasi tertulis dan penerapan metode matematika dan statistika terhadap buku dan media komunikasi lain (Fitzgibbons, 1980: 292). Selanjutnya istilah bibliografi statistika tidak digunakan lagi.

Analisis sitiran merupakan bagian dari bibliometrika, menurut Ikpaahindi  (1985) metode bibliometrika dapat dilakukan dengan cara penghitungan analisis sitiran langsung (direct citation counting) yang digunakan dalam analisis sitiran.Oleh karena itu pengertian analisis sitiran mengandung makna yang sama dengan kajian sitiran, bahkan secara lebih lengkap disebut kajian analisis sitiran. Analisis sitiran adalah analisis atas sejumlah sitiran atau sejumlah rujukan yang terdapat dalam tulisan ilmiah atau literatur primer (Martyn, 1975: 290). Kajian sitiran didasarkan pada hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir. Hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir dapat ditelusuri melalui motivasi, tujuan, dan fungsi sitiran (Mustikasari, 2002). Hodges (1978) seperti dikutip oleh Liu (1993) dalam Mustikasari (2002) mengidentifikasi indikator hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir yaitu sebagai penjelasan, memberikan informasi umum, hubungan historis, hubungan “saudara kandung”, hubungan operasional, hubungan kolaboratif, memberikan informasi spesifik, dokumentasi, hubungan metodologis, dan hubungan korektif.

 

2.4       Manfaat Analisis  Sitiran

            Dengan menganalisa data rujukan peneliti dapat mengukur dampak suatu artikel, penulis, publikasi (majalah) dan penerbit. Semakin tinggi frekuensi suatu artikel dirujuk, makin besar dampaknya bagi perkembangan ilmu dan teknologi. Analisa data rujukan dapat membantu peneliti mengetahui jenis dan cakupan topik-topik yang pernah diteliti, sehingga memudahkan pemilihan topik-topik yang akan diteliti.

C.D. Hurt (1984: 246) mengemukakan bahwa menurutnya analisis sitiran biasanya dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan literatur pada subjek tertentu yang juga berkorelasi dengan perkembangan subjek yang tersebut. Sehingga dari tiap kelompok subjek dapat diketahui  kelas subjek yang dominan. Senada dengan yang diungkapkan Suharjan (1995: 41) sebagaimana dikutip Sutarji (2002)   Daftar pustaka yang terhimpun dalam kelompok-kelompok spesifik dapat pula membantu kelancaran proses penelitian.

            Menurut Brittain dan Line (1973) dalam Swasti (1997: 13) yang dikutip oleh Sutarji (2002). Analisis sitiran merupakan jenis penelitian yang dimaksudkan untuk:

a.       Mengidentifikasi literatur atau judul inti

b.      Mengelompokkan sumber-sumber menurut literatur yang disitir yang memiliki kesamaan

c.       Melihat cakupan bahan-bahan dalam jasa sekunder

d.      Mengetahui ukuran dan struktur literatur menurut bahasa, usia, negara asal, subyek, bentuk atau gabungan dari parameter ini.

e.       Mengetahui pemakaian literatur yang lainnya oleh para penulis menurut bahasa, usia, dsb.

f.       Mengetahui rata-rata pertumbuhan literatur

g.      Mengetahui penyebaran pengetahuan terekam.

h.      Mengetahui kegiatan penyitiran.

i.        Melihat kepengarangan, tunggal, jamak, dan lain sebagainya.

 

Analisis sitiran dapat diterapkan untuk keperluan praktis seperti untuk menentukan pengembangan koleksi, menentukan kebijakan penyiangan, menentukan anggaran perpustakaan maupun untuk keperluan teoritis seperti sejarah pengetahuan.

Menurut Smith (1981) yang dikutip Surata (1997: 21) dalam Sutarji (2002), analisis sitiran dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti:

1.      Kajian Literatur. Dalam hal ini sitiran dilihat dalam bidang subyek tertentu untuk menggambarkan pola sitiran. Karakteristik bahan-bahan yang disitir yang sering diamati meliputi bentuk, usia, jurnal atau pengarang yang sering disitir, bahasa, negara asal dan penyebaran subyek.

2.      Kajian jenis literatur. Analisis sitiran dapat dipakai untuk mengukur penyebaran hasil-hasil yang dilaporkan di dalam jenis-jenis literatur tertentu, seperti dokumen-dokumen pemerintah, disertasi atau literatur pertukaran dari lembaga-lembaga ilmiah.

3.      Kajian pengguna. Analisis sitiran mempunyai implikasi untuk pengembangan koleksi dan merancang pelayanan yang berorientasi kepada pengguna. Ini dimungkinkan karena sitiran memiliki pendekatan untuk mengetahui informasi yang digunakan oleh pengguna.

4.      Kajian historis. Sitiran dapat digunakan untuk menjajaki kronologi dari kejadian-kejadian  yang ada, hubungan-hubungan diantara kejadian itu, dari hal-hal penting yang dapat diperoleh didalamnya.

5.      Pola komunikasi. Sitiran dipandang sebagai indikator yang logis dari pola komunikasi ilmiah. Analisis sitiran dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah dalam komunikasi, yang dapat meliputi masalah tidak memahami bahasa yang disampaikan, penyebaran gagasan-gagasan baru yang terbatas, dan kesenjangan antara ilmu dasar dan ilmu terapan atau antara pakar dengan masyarakat awam.

6.      Evaluasi Bibliometrik. Dalam kajian ini, analisis sitiran didefinisikan sebagai evaluasi dan interpretasi dari sitiran-sitiran yang diterima oleh artikel, ilmuwan, universitas, negara dan sejumlah kegiatan ilmiah lainnya, digunakan sebagai suatu ukuran dari pengaruh dan produktivitas ilmiah.

7.      Temu balik informasi. Hubungan sitiran mungkin telah memiliki pengaruh yang paling besar dalam temu balik. Dimana sitiran telah digunakan sebagai pendekatan tradisional dalam penelusuran literatur.

8.      Pengembangan koleksi. Analisis sitiran telah diterapkan terutama untuk pengembangan koleksi majalah, dimana keputusan yang diambil meliputi apakah perpustakaan akan mengadakan atau tidak suatu majalah, apakah akan meneruskan atau menghentikan langganan, dan apakah akan menyiangi atau tidak suatu dokumen.

 

Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa analisis sitiran merupakan kajian yang diterapkan dalam berbagai bidang, antara lain untuk mengetahui karakteristik literatur yang disitir oleh para ilmuwan dan peneliti lain, misalnya untuk mengetahui majalah terpenting dalam bidang tertentu. Pest dalam Buzzard (1983: 470) menyatakan bahwa analisis sitiran adalah teknik yang dapat diterima untuk mengukur pemanfaatan perpustakaan guna keperluan penelitian, untuk itu analisis sitiran dilakukan bersama dengan kajian sirkulasi. Hasil dari analisis sitiran dapat dijadikan indikator terhadap pemakaian atau penggunaan bahan pustaka, meskipun demikian diperlukan indikator lain seperti data statistik bahan pustaka yang dibaca ditempat, serta statistik sirkulasi peminjaman, hal ini disebabkan banyak bahan pustaka yang dibaca namun tidak disitir, sebaliknya pengarang kadang hanya menyitir sebagian kecil dari bahan bacaannya. Namun kajian sitiran tetap layak untuk dijadikan indikator pemakaian literatur di pusat informasi karena sifatnya yang memberikan kenetralan atau tidak menonjol (unobstrusive).

2.5       Analisis Sitiran Sebagai Suatu Teknik Penelitian

            Teknik penelitian sitiran merupakan suatu jalan untuk menerangkan secara efektif  pengorganisasian dan pengawasan literatur. Metode ini sudah dikerjakan secara khusus dan teratur oleh para peneliti bibliografi. Analisis sitiran tidak memperhatikan isi naskah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Wayne (1974: 14) tetapi lebih merupakan suatu teknik analisis bahan-bahan yang bersifat informatif, yang digunakan oleh pengarang dalam bidang subjek, seperti bentuk, subjek yang berhubungan, tanggal penerbitan dan tanggal penggunaan, negara asal dan sebagainya. Data sitiran sebagai suatu obyek penelitian, sudah dianalisa sejak tahun 1920-an dengan mempelajari melalui penelitian yang dimulai dalam bidang ilmu-ilmu eksakta. Yang mula-mula menggunakan metode analisis sitiran adalah Gross dan Gross, pada tahun 1927. Mereka bekerja dalam bidang ilmu kimia dan tertarik untuk membuat sebuah daftar majalah dalam bidang ilmu kimia yang seharusnya diadakan dan dimiliki oleh suatu perpustakaan perguruan tinggi, sehingga dengan demikian dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh para mahasiswanya. Mereka mulai dengan menghitung satu demi satu acuan/ rujukan selama satu tahun terbitan dari Journal of the American Chemical Society, merupakan majalah dalam bidang ilmu kimia yang sangat banyak digunakan  (Wayne, 1974: 16)

Dua tahun kemudian, Allen menggunakan metode yang ditemukan oleh Gross dan Gross, dalam literatur matematik. Dia menentukan 9 buah majalah. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Gross dan Gross sebelumnya yang hanya menggunakan sebuah majalah. Termasuk dalam majalah tersebut judul-judul yang diterbitkan di Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia. Ini berarti dia juga menggunakan beberapa bahasa. Tujuan Allen dalam penelitian tersebut ialah untuk menentukan peringkat terbitan-terbitan berbagai negara yang digunakan oleh para matematikawan di negara tertentu (Wayne, 1974: 17).

2.6       Penelitian-penelitian Sebelumnya

Pada tahun 1928 Jenkins menggunakan Journal of American Medical Association (JAMA), British Medical Journal (Br Med J) terbitan tahun 1928 sebagai sumber. Dengan menyusun tabel dari JAMA, dikemukakan bahwa majalah yang paling utama adalah JAMA diikuti oleh Journal of Biological Chemistry. Ketika menyusun tabel  dengan menggunakan  Br Med J sebagai sumber hasilnya menunjukkan bahwa JAMA berada di peringkat teratas kemudian diikuti oleh Br Med J.

            Sherwood, memeriksa terbitan satu tahun dari JAMA yang terbit Juli 1930 sampai dengan Juni 1931. Sherwood tidak memberikan peringkat, tetapi mengatakan bahwa sumber dari 4.912 acuan, 85 % berasal dari majalah kedokteran. Selain itu dalam penelitiannya di bidang fisiologi, Hafner menunjukkan bahwa sumber sitiran yang berasal dari majalah adalah 90,67 % dan yang berasal dari buku adalah 9,33 %. Hasil menunjukkan karena informasi yang terdapat dalam majalah adalah mengenai penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan terbaru. Dalam dunia kedokteran sangat penting untuk selalu mengikuti perkembangan yang terbaru.

            Dalam bidang Endocrinology, Gregory membandingkan sitiran pada majalah dari terbitan pada tahun 1933 dengan terbitan pada tahun 1939.

            Hackh melakukan penelitian bidang kedokteran gigi. Data diambil dari 21 judul majalah kedokteran gigi yang terbit antara tahun 1915-1933. Jumlah keseluruhan sitiran adalah 21,901 sitiran. Majalah merupakan jenis dokumen yang paling banyak disitir. Journal of American Dental Association merupakan majalah yang paling banyak disitir yaitu sebanyk 498 kali diikuti Curr.Ress.Anes.Analg sebanyak 455, dan Journal of Periodontology sebanyak 133 kali

            Dalam penelitiannya di bidang Tropical Medicine, Brennen menyusun peringkat dari majalah yang ditelitinya. Majalah yang paling banyak disitir adalah Transaction of The Royal Society of Tropical Medicine dan Hygiene sebanyak 429 kali, kemudian diikuti oleh American Journal of Tropical Medicine dan Hygiene sebanyk 427 kali, Journal of Parasitology sebanyak 333 kali. Pada daftar peringkat Broadman tahun 1944 Journal of Biological Chemistry menempati peringkat ke-5, pada daftar peringkat Brown tahun 1963 menempati peringkat ke-3, pada daftar peringkat Guha tahun 1965 tidak termasuk dalam peringkat. Sedangkan pada daftar peringkat Sengupta tahun 1965, majalah tersebut sama-sama menempati peringkat pertama. Dengan demikian terdapat perbedaan dan persamaan peringkat dalam waktu penelitian yang berbeda.

Sengupta, dalam penelitiannya di bidang Biomedical menyimpulkan bahwa Journal of Biological Chemistry (Baltimore) menduduki peringkat paling atas dengan sitiran sebanyak 1764 kali dengan presentase 6, 75 %, kemudian diikuti oleh Proceeding of the Society for Experimental Biology and Medicine yang disitir sebanyak 1364 kali dengan presentase 5,22 % kemudian diikuti oleh Indian Journal of Medical Research yang disitir sebanyak 1.122 kali dengan presentase sebanyak 4,29 %,  penelitian ini mengambil data dari tahun 1959 – 1968.   Jenis dokumen yang paling banyak digunakan oleh para penulis adalah majalah dengan persentase 85,71 %, sedangkan jenis dokumen selain majalah yang menempati peringkat pertama adalah buku dengan persentase 75 % dari keseluruhan dokumen selain buku dan 10,72 % dari keseluruhan jenis dokumen. Bahasa yang paling sering digunakan oleh para penulis adalah bahasa Inggris dengan persentase 85,65 %, sedangkan negara asal majalah yang paling banyak disitir adalah majalah terbitan Amerika Serikat dengan persentase 43,43 % atau dengan jumlah 99 judul majalah.

Selain penelitian diatas Sengupta juga melakukan penelitian lagi dengan menggunakan metoda analisis sitiran pada Annual Review of Medicine yang terbit tahun 1965-1969. Dalam penelitian tersebut Sengupta menghasilkan suatu daftar peringkat majalah, yang terdiri dari 275 judul majalah yang paling sering digunakan oleh para penulis. Sengupta membandingkan daftar tersebut dengan daftar hasil penelitiannya tahun 1944, 1954-1958, daftar 1959-1968, dan daftar penelitian Brown tahun 1954.Ternyata terdapat banyak perbedaan peringkat majalah. Majalah yang berjudul Journal of Clinical Investigation, terbitan Baltimore pada tahun 1924 mendapat peringkat pertama dalam penelitiannya terhadap Annual Review of Medicine. Sedangkan dalam daftar peringkat lain yang sudah disebut diatas masing-masing menempati peringkat ke-72, ke-8, ke-11, dan ke-13. Jadi terdapat perbedaan peringkat untuk satu judul majalah pada waktu penelitian yang berbeda.

            Dalam penelitian Sengupta tersebut, penggunaan majalah oleh para penulis menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu 87,56 % sedangkan selain majalah 12,44 %. Untuk dokumen selain majalah, yang menempati urutan pertama dokumen yang digunakan adalah jenis dokumen buku, dengan persentase 49, 6 %, dan 6,15 % dari keseluruhan jenis dokumen. Penelitian Sengupta tersebut juga menunjukkan bahwa bahasa yang paling sering digunakan adalah bahasa Inggris, dengan persentase 78,91 %. Sedangkan asal terbit majalah, yang menempati peringkat pertama adalah majalah terbitan Amerika dengan jumlah 150 judul majalah atau 54,55 % dari seluruh judul majalah.

Peneliti-peneliti lain yang menggunakan metoda analisis sitiran dalam bidang kedokteran Menurut Raisig sebagaimana dikutip Sarwindah (1993: 20) adalah sebagai berikut:

1.      Tahun 1931, Jenkins, bidang kedokteran umum

2.      Tahun 1932, Sherwood, bidang kedokteran umum dan keahlian khusus

3.      Tahun 1932, Jenkins, bidang bimbingan anak (child guidance)

4.      Tahun 1934, Mengret, bidang endokrinologi seks.

5.      Tahun 1935, Gregory, bidang endolrinologi seks

6.      Tahun 1937, Gregory, bidang kedokteran umum dan 27 subyek lainnya

7.      Tahun 1938, Henkle, bidang Biokimia

8.      Tahun 1942, Casey,  bidang kedokteran umum dalam bahasa Inggris

9.      Tahun 1944, Brodman, bidang fisiologi

10.  Tahun 1956, Brown, bidang fisiologi

11.  Tahun 1957, Morgan, bidang Fisiologi

Dalam penelitian-penelitian sebelumnya ditemukan kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh asumsi-asumsi pada kajian sitiran berkaitan dengan masalah-masalah yang ada pada sumber data sitiran, baik dari berbagai sumber maupun sumber sekunder seperti indeks sitiran. Cole dan Cole (1971) dalam Smith (1981: 91-93) membahas permasalahan tersebut dan cara menanganinya dengan analisis statistik. Masalah-masalah tersebut adalah:

1.  Kepengarangan ganda. Daftar artikel sitiran dalam indeks sitiran hanya mencakup nama pengarang pertama. Untuk menemukan semua sitiran pada publikasi dari pengarang yang tercantum, termasuk mereka yang bukan pengarang pertama pustakawan membutuhkan sebuah bibliografi  sehingga semua artikel dalam indeks sitiran dapat diperiksa. Pustakawan sebaiknya memperhatikan urutan nama pengarang dalam mengalokasikan kredit, sebagaimana urutan ini sering sebagai sebuah indikasi kontribusi tiap pengarang untuk hasil karya yang dipublikasikan.

2. Sitiran karya pribadi (Self-Citation). Jika sitiran pribadi dihilangkan dari hitungan sitiran, hal ini dengan mudah dilakukan pada makalah yang dihasilkan oleh pengarang tunggal. Pada pengarang ganda sangat sulit untuk menghapus sitiran pribadi, misalnya referensi-referensi dari berbagai anggota kelompok penelitian kepada  anggota kelompok lainnya dalam penelitian. Dalam permasalahan ini seseorang harus mencari sumber yang dapat mengidentifikasikan semua anggota kelompok penelitian.

3. Homographs. Banyak ilmuwan dengan nama dan inisial yang sama dapat diperkenalkan dalam bidang yang sama. Untuk membedakan diantara mereka, informasi tambahan seperti badan afiliasi diperlukan. 

4.  Sinonim. Sitiran akan tersebar melalui bentuk standar untuk nama pengarang dengan sejumlah variabel inisial (misalnya Licklider, J; Licklider, JC; Licklider, JCR). Nama jurnal juga menciptakan masalah sinonim ketika hasil karya mendefinisikan variasi-variasi dalam bentuk singkatan pada judul, jurnal gabungan, perubahan menjadi jurnal baru, pergantian judul, dan hasil terjemahan. Ada keharusan untuk menentukan mana bentuk yang sepadan untuk tujuan analisis sitiran.

5.   Tipe-tipe sumber (Types of Sources).Tipe-tipe sumber yang digunakan dalam analisis sitiran dapat mempengaruhi hasil, sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah study oleh Line dalam ilmu-ilmu sosial. Analisis rujukan digambarkan dalam jurnal dan monograph menunjukkan perbedaan, beberapa diantaranya lebih luas pada distribusi waktu, bentuk material yang disitir, subjek  yang menyitir sitiran pribadi dan sitiran-sitiran diantara ilmu-ilmu sosial, dan asal negara publikasi yang disitir. Line menyimpulkan bahwa berbagai analisis sitiran yang berdasarkan hanya pada sejumlah tipe terbatas tanpa penentuan yang spesifik patut disangsikan. Oromaner berpendapat bahwa pilihan tipe dan sejumlah sumber sebaiknya bergantung pada tujuan analisis.

6.  Sitiran Implisit (Implicit Citations). Kebanyakan analisis sitiran menggunakan sitiran yang eksplisit, kecuali A&HCI mencakup sitiran implisit. Sayangnya sitiran implisit sering ditemukan berupa istilah (eponim) dalam literatur ilmiah dan makalah yang mengandung ide penting yang perlu diketahui lebih luas lebih penting untuk disitir. Jika seorang peneliti menggunakan analisis sitiran untuk mengukur pengaruh seorang pengarang, sitiran implisit tersebut gagal jika diikutsertakan.

7.  Fluktuasi dengan waktu (Fluctuations with time). Ada banyak variasi dalam analisis sitiran dari tahun ke tahun yang lainnya, jadi data sitiran sebaiknya tidak terlalu terikat dengan waktu.

8.   Variasi bidang derajat sitiran (Field Variations)

Bates berpendapat bahwa tingkat kriteria sebagai perbaikan tingkat sitiran, karena penghitungan sitiran sebagai sebuah ukuran kualitas hasil penelitian tidak hanya oleh nilai kesesuaian kerja tersebut, tapi juga ukuran keluasan sitiran yang sesuai dengan bidang penelitian tersebut.

9.  Kesalahan (Error). Tentu saja, analisis sitiran, termasuk semua sitiran berdasarkan pada indeks sitiran, mungkin saja tidak lebih akurat dibanding alat lain yang digunakan. 

            Analisis sitiran banyak mendapat kritik, terutama diajukan kepada asumsi yang mendasari analisis sitiran. Sebenarnya keabsahan dalam analisis sitiran sering dikaitkan dengan keabsahan asumsi dan metodologi yang digunakan. Asumsi yang sering digunakan dalam analisis sitiran menurut Smith (1981: 87) adalah:

1.      Dokumen yang disitir benar-benar digunakan para pengarang yang menyitir. Asumsi ini sebenarnya mencakup dua kegiatan; pertama, pengarang mengacu semua bagian atau mengacu yang terpenting dari dokumen yang digunakan dalam mempersiapkan karyanya; kedua, semua dokumen yang terdaftar benar-benar digunakan. Dengan kata lain, pengarang hanya mengacu ke sebuah dokumen saja apabila secara nyata memang dokumen tersebut bermanfaat dalam mempersiapkan karyanya. Asumsi ini sering mendapat kritikan karena sering terjadi dokumen tertentu kurang dihargai sehingga tidak semua bagian yang digunakan disitir, dan dokumen lainnya dinilai terlampau tinggi sehingga tidak semua bagian yang disitir digunakan.

2.      Dokumen yang disitir menunjukkan derajat (kualitas, signifikansi/ kepentingan, dan dampak) dokumen tersebut. Dengan demikian berarti bahwa semakin sering dokumen disitir berarti semakin tinggi mutu dokumen tersebut. Thorne mengatakan bahwa dokumen yang disitir hanya untuk alasan yang tidak relevan yaitu untuk kepantasan saja.

3.      Dokumen yang disitir kemungkinan merupakan dokumen yang paling baik untuk disitir. Dalam pembuatan karya tulis tentunya dipersiapkan dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang perlu disitir dan kemudian akan diseleksi dokumen yang dianggap paling baik disitir. Soper melakukan penelitian terhadap pengaruh lokasi dokumen yang akan disitir. Soper melakukan penelitian terhadap pengaruh lokasi dokumen yang akan disitir. Ia mengatakan bahwa jumlah terbesar dokumen yang disitir merupakan koleksi pribadi, jumlah koleksi yang lebih kecil adalah dokumen yang terdapat di perpustakaan dan institusi tempat responden bekerja, sedangkan jumlah terkecil adalah di perpustakaan di kota atau di negara lain. Dapat dikatakan bahwa bahwa dokumen yang paling banyak disitir tergantung mudah tidaknya dokumen tersebut diperoleh dan juga dipengaruhi oleh bentuk, asal terbitan, umur, dan bahasa dokumen.

4.      Dokumen yang disitir berhubungan dengan isi dokumen yang menyitir. Apabila dua dokumen secara bersama disitir oleh sebuah dokumen maka dua dokumen tersebut mempunyai kaitan isi dan bila dua dokumen yang menyitir satu dokumen yang sama maka dua dokumen tersebut juga mempunyai kaitan isi. Asumsi ini tidak selalu benar karena belum tentu informasi yang dikutip sama bila dua dokumen mengutip sebuah dokumen yang sama.

5.      Semua sitiran sama derajatnya. Bertram mengatakan bahwa pengarang dalam mengutip dokumen menggunakan tiga derajat; pertama, pendahuluan cenderung mengutip secara keseluruhan; kedua, pembahasan serta hasil cenderung mengutip kata-kata, sedangkan menurut Small, sitiran adalah sebagai simbol pribadi pengarang sendiri atau suatu kelompok ilmuwan.

Oleh karena adanya kelemahan-kelemahan tersebut maka muncul banyak kritik terhadap keabsahan analisis sitiran. Contoh, seseorang yang mengutip hanya karena karya seorang profesor dan mencari nama. Kekhawatiran dan kelemahan tersebut dibuat tanpa tanggung jawab atau untuk maksud tersembunyi yang tidak dibenarkan oleh fakta.

Oleh karena itu dalam analisis sitiran perlu dikumpulkan data yang memadai, karena populasi sampel data dengan mudah dan tepat dapat dipillih, dan harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati sehingga keabsahan analisis sitiran tidak diragukan lagi.

 

2.3.2    Keusangan Literatur

            Menurut Line dan Sandison (1974) yang dikutip Swasti (1997: 21) dalam Sutarji (2002: 30) keusangan literatur dikaitkan dengan keusaangan sebuah dokumen diartikan bahwa dokumen sudah usang, bila dokumen tersebut jarang digunakan. Penurunan penggunaan suatu dokumen disebabkan karena:

·         Informasi sahih, namun sudah terserat dalam dokumen berikutnya

·         Informasi sahih, namun informasi tersebut berada dalam bidang yang kurang diminati

·         Informasi tidak lagi dianggap sahih

Adapun peningkatan kesahihan suatu dokumen, dapat disebabkan karena:

·         Informasi yang tidak sahih diakui menjadi sahih

·        Informasi bersifat sahih, namun tidak ada teori atau teknologi yang mendukung

·         Informasi yang dimuat sahih dan menarik banyak minat orang atau berada dalam ambang perkembangan.

Beberapa pengarang telah menganjurkan penggunaan pola keusangan berdasarkan pada paro hidup (“half-life” ). Paro hidup (half-life) sitiran adalah jangka waktu yang diperlukan oleh separo literatur bidang tertentu yang disitir oleh literatur yang dipublikasikan. Keusangan literatur merupakan dampak  dari perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi karena hanya literatur yang mutakhir yang menarik bagi ilmuwan, sedangkan literatur yang lebih tua digunakan hanya bila mengandung informasi yang cenderung menggabungkan karya yang terakhir. Hal tersebut berarti bahwa semakin banyak literatur dalam sebuah bidang, semakin terpengaruh usia paro hidup literatur. Selain itu I Gede Surata sebagaimana dikutip oleh Bambang Setiawan (1999) menyatakan bahwa Paro-hidup literatur yang disitir merupakan ukuran waktu pada saat mana setengah dari semua literatur suatu disiplin ilmu secara terus menerus digunakan sejak diterbitkan

Ukuran sitiran (“Citation Measure”) yang digunakan oleh Brooks, Buckland, Line, Morse, dan Elston, dimaksudkan untuk meneliti keusangan rata-rata literatur  dalam bidang IPTEK. Penelitian tentang keusangan suatu literatur biasanya diketahui dengan memperhatikan literatur karya ilmiah yang digunakan, dan mencapai puncak pemanfaatan tertinggi pada masa kira-kira dua tahun setelah penerbitan. Namun penggunaannya secara berangsur-angsur berkurang bersamaan dengan waktu. Beberapa pengarang telah menganjurkan penggunaan pola keusangan berdasarkan pada paro hidup (“half-life) suatu majalah. Dalam suatu penelitian tentang rujukan melalui artikel-artikel terbitan pertama dari majalah Physical-Review (1960), Line menemukan bahwa artikel-artikel pada majalah ini yang telah disitir untuk beberapa tahun, disitir oleh terbitan-terbitan mereka selama 12 tahun berikutnya. Artikel yang mendapatkan sitiran lebih sedikit pada permulaan tahun, akan mendapat sitiran yang semakin sedikit pula, bersamaan dengan berlalunya waktu Namun pernyataan ini masih dianggap hipotesis (bukan asumsi) dan perlu diuji kebenarannya (Line dan Sandison, 1974: 284) dalam (Sandra, 2001: 48)

DAFTAR PUSTAKA:

Pao, Miranda Lee. “Coauthorship as communication measure,” Library research 2. 1981: 327-338

Raptis, Paschalis. “Authorship characteristic in five international library sciencejournals,” Libri 4(1) 1992:35-52

Shaw, W.M” International Theory and scientific communication,” Scientometrics 3(3), 1981:235-249

Subramanyam, K. “Bibliometric studies of research collaboration a review,” Journal of Information Science, 6(1). 1983:33-38

Sulistyo Basuki.”Kolaborasi penulis kedokteran Indonesia 1981-1988” Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi 1(1), September 1993:1-15

Wallace, Danny P “A solution in search of a problem. Bibliometrics &Libraries” Library Journal, May I, 1987: 43-47.

White, Howard D; McCain, Katherine W.”Bibliometric”. Annual Review of Information Science and technology (ARIST),4, 1989:119-186

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: